Berat bagi saya menulis kali ini. Ibarat kata, seperti menepuk air di dulang, muka saya akan kecipratan airnya, dan basaaaah! Sepertinya memalukan, tapi ini nyata.

Saya tidak akan bercerita banyak. Semoga gambar ini bisa mewakili mengapa saya memilih judul postingan kali ini adalah perlu pengelolaan sampah di lingkungan Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret.

Masih sangat jelas dalam ingatan saya, bulan April 2009, tempat parkir sepeda motor di Fakultas Teknik UNS mengalami banjir. Ratusan sepeda motor tergenang, sebagian besar mesinnya mogok. Akankah terjadi lagi  di musim penghujan tahun ini? Semoga tidak!

Apa yang akan kita lakukan?

Selamat IDUL ADHA

November 25th, 2009

Mengucapkan SELAMAT IDUL ADHA”

Semoga Allah memberkahi seluruh keluarga besar Universitas Sebelas Maret. Aamiin…

Jangan kaget bila perjalanan Anda menuju ke Gedung I dan Gedung III Fakultas Teknik UNS bakalan terganggu oleh adanya polisi tidur-polisi tidur (karena walaupun hanya di dua tempat, tapi masing-masing terdapat tiga polisi tidur yang kekar). Sepeda motor dan mobil harus ganti gigi ke posisi satu, menginjak rem, berjalan kembali sangat pelan. Seli (sepeda lipat) saya lebih “kasihan” lagi. Roda yang cuma 16 inchi, terpaksa terjepit di antara gundukan polisi tidur tersebut. Bila nekat manaiki seli, saya bisa jatuh terjungkal.

Polisi tidur di Fakultas Teknik bisa diatasi, atau justru berusaha dihindari ya?

Sepertinya perlu evaluasi terhadap keberadaan dan desain polisi tidur di Fakultas Teknik UNS!

Jogja dan Halte TransJogja

November 16th, 2009

Mencermati arsitektur kota, tidak lepas dari mencermati sistem transportasinya. Jogja kini telah memiliki TransJogja dengan sarana dan prasarananya. Moda transportasi ini jauh lebih nyaman daripada bis kota yang telah ada sebelumnya. Kondisi bis yang baru, masih terawat dan full ac mampu memanjakan penumpangnya. Tiket yang perlu dibayar hanya seharga tiga ribu rupiah. Bis hanya berhenti di halte yang telah ditentukan. Halte ini cukup nyaman, walaupun ukurannya bisa dibilang kecil. Namun ada hal yang kurang pas dan perlu ditinjau kembali, yaitu persebaran halte yang kadang tempatnya tidak mudah untuk berganti moda transportasi yang lain. Sehingga penumpang perlu berjalan kaki beberapa ratus meter untuk mencapai jalur moda transportasi umum yang lain.

Perjalanan menjelajah Jogja pada week end ini cukup mengasyikkan.  Mencoba TransJogja bersama seli (sepeda lipat) menjadi hal menarik dan menyenangkan. Walaupun sebaran halte TransJogja yang belum sempurna, bersama seli hal ini bisa diatasi. Seli dibuka, gowes lagi!

Kota Solo dan Halte yang Nyaman

November 13th, 2009

Apakah Kota Solo telah memiliki halte yang nyaman? Sepanjang pengamatan saya di sepanjang Jalan Slamet Riyadi Solo, saya sudah memenukan halte yang nyaman. Visibilitas yang bagus, desain yang bisa melindungi dari panas dan hujan, tempat duduk yang cukup nyaman dan bersih.

Pelatihan Kepemimpinan bagi Pembina Organisasi Mahasiswa Universitas Sebelas Maret telah dilaksanakan selama tiga hari (5-7 November 2009) di Tawangmangu. Pelatihan ini diikuti oleh 28 peserta dari berbagai fakultas. Materi yang telah diperoleh antara lain: prinsip kepemimpinan, motivasi kepemimpinan, kepemimpinan tranformasional, coaching dan counselling.

Kali ini adalah kali pertama Bike 2 Work hingga ke Tawangmangu. Tapi jangan dibanyangkan bahwa saya harus menggowes sepeda dari rumah, ke kampus UNS, kemudian ke Tawangmangu (yang jalannya naik dan menanjak). Seli (sepeda lipat) dahon curve D3 ikut bis kampus UNS. Mungkin seli saya adalah seli pertama yang mendapat kesempatan pertama naik bis kampus. Ini juga pengalaman pertama saya naik bis kampus UNS (setelah sembilan tahun menjadi fasilitator pembelajaran di UNS!)

Di pagi hari sebelum acara dimulai, saya tetap bisa bersepeda! Sambil bersepeda, saya bisa berbagi senyum dengan penjual bunga, berbagi senyum dengan penjual sate kelinci, berbagi senyum dengan mbok bakul penjual buah strawberry. Ya… usaha kecil untuk menambah “rekening di bank emosi” (ini hasil pelatihan yang langsung bisa diterapkan!).

Berawal dari hobby sejak kecil, bersepeda menjadi hal yang menyenangkan bagi saya hingga saat ini. Saat rekan-rekan dosen dan staff UNS beramai-ramai up load di blog resmi universitas tentang hal-hal yang sangat akademis, ilmiah, dan membuat kening berkerut, saya malah menulis sesuatu yang “sepele”: bersepeda. Tentu saja banyak yang mempertanyakan, mengapa saya tertarik menulis tentang bersepeda, sementara blog ini adalah blog resmi universitas.

Tema blog ini adalah “arsitektur dan akademika“. Apa sih hubungannya bersepeda dengan berarsitektur dan pembelajaran? Wah, saya jadi berpikir untuk menjawab secara “akademis dan ilmiah sambil mengerutkan kening”.

Tentu saja ada hubungan yang sangat erat antara bersepeda dan arsitektur kota. Karena hampir dalam setiap perjalanan bersepeda, terutama saat touring ke luar kota, hal pertama yang terlintas adalah: di mana tempat yang paling bagus untuk berfoto sebagai bukti bahwa saya sudah bersepeda di kota tersebut? Dalam bahasa arsitektur, hal tersebut terkait dengan landmark suatu kota, sebuah “tetenger” kota. Landmark suatu kota bisa berupa bangunan, sclupture, patung atau lingkungan binaan yang sudah dan mudah dikenali oleh masyarakat. Seperti contohnya: Jakarta memiliki Monas, Surabaya memiliki patung sura dan baya, Amerika memiliki patung Liberty, Perancis memiliki menara Eiffel dan sebagainya.

Sebagai bagian dari pembelajaran arsitektur kota, bersepeda membuat saya lebih mudah menangkap dan memahami fenomena sebuah kota. Dengan kecepatan kayuh yang tidak terlalu cepat (bila dibandingkan mengalami ruang kota dengan mengendarai mobil atau motor) dan tidak terlalu lambat dan melelahkan saat survey kota yang dilakukan dengan berjalan kaki (karena dengan berjalan kaki kemampuan “meng-orbit” kota juga sangat terbatas radiusnya), maka bersepeda menjadi pilihan efektif dalam mengenali suatu kota.

Belum tentu yang saya tuliskan adalah benar, kalau yang dicari pembenaran. Saya hanya mencoba mengkaitkan apa yang terpikir di benak saja. Yang jelas, saya cuma ingin menuliskan bahwa, saya suka bersepeda (tanpa harus ada alasan “akademis, ilmiah, sambil mengerutkan kening”). Itu saja.

Rabu dan Jumat menjadi hari yang menyenangkan untuk ke kampus. Karena pada hari tersebut saya bersepeda ke kampus.

🙂

Tapi sayang, di UNS tidak disediakan tempat parkir sepeda. Jadi terpaksa, sepeda saya lipat, saya tenteng masuk ke ruangan atau ke kelas.

AMT FT UNS

August 19th, 2009

Achievement Motivation Training di Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret dilangsungkan pada hari Rabu dan Kamis (19 dan 20 Agustus 2009). AMT ini diikuti oleh sekitar 60 mahasiswa teknik angkatan 2007 (dari berbagai jurusan).

Materi yang disajikan meliputi:

Pengenalan Diri dan Merujuk pada Tujuan Akhir

Motivasi dan Etos Kerja

Proaktif dan Belajar Aktif

Komunikasi Simpatik dan Sinergi

Percaya Diri dan Bersyukur

Trainer:

Ir. Agung Kumoro, MT

Kahar Sunoko, ST,MT

Ir. Siti Qomariah, M.Eng

Ummul Mustaqimah, ST,MT

Ini bukan kali pertama saya ke kampus naik sepeda. Tapi bersepeda ke kampus UNS dengan sepeda lipat atau “seli” merupakan hal baru bagi saya. Karena bentuk seli Dahon curve D3 yang saya gowes cukup aneh, jadi banyak menyita perhatian orang-orang. “Pit-e lucu..”  “Kayak sepeda anak kecil…” dan komentar seperti itu yang terdengar. Lucu. Jadi diperhatikan orang. Naik sepeda lipat atau seli ke kampus UNS ternyata bisa jadi “seli-britis“!

(Maaf, karena kuota gambar di blog ini udah nggak ada lagi, gambar bisa dilihat di:  http://ummul-m.blogspot.com/2009/08/bermimpi-tentang-jalur-aman-dan-nyaman.html )

Skip to toolbar